Perbedaan Pendidikan di Indonesia dan Amerika
Sistem Pendidikan di Amerika Serikat
Pengantar
Sekolah dasar dan menengah adalah wajib bagi seluruh siswa di Amerika Serikat, akan tetap jenjang usia siswa berbeda-beda di setiap Negara bagian. Siswa di Amerika Serikat memulai pendidikanya dari jenjang Kindergarten (usia 5 sampai 6 tahun) hingga menyelesaikan pendidikan menegah pada kelas 12 (usia 18 tahun). Terdapat 14.000 sekolah di Amerika Serikat dan setiap tahunya pemerintah Amerika Serikat mengalokasikan dana pendidikan sebesar $500 triliun untuk digunakan keperluan sekolah dasar dan menengah.
Pendidikan dasar
Pendidikan dasar di Amerika Serikat berjenjang dari Kindergarten hingga Fithh grade (Kelas 5), tetapi terkadang juga berjenjang hingga Fourth grade (kelas 4), Sixth grade (kelas 6) atau eighth grade (kelas 8) tergantung sisitem kurikulum pada school district tersebut. Kurikulum pembelajaran dipilih oleh school district mengacu pada standar pembelajaran di Negara bagian tersebut. Standar pembelajaran adalah tujuan yang harus dicapai oleh School district yang harus mengacu pada AYP (Adequate yearly program).
Suasana pembelajaran pada sekolah dasar di Amerika Serikat berbeda dengan pembelajaran pada sekolah di Indonesia. Satu kelas terdiri dari dua puluh higga tiga puluh siswa. Guru Sekolah dasar di Amerika Serikat dibekali pendidikan lanjutan mengenai perkembangan congnitive and psychological development. Guru-guru di Amerika Serikat telah menyelesaikan pendidikan lanjutan Sarjana dan atau Pasca Sarjana (Bachelors and/or Masters degree) dalam bidang Early Childhood and Elementary Education.
Pendidikan Menengah
Jenjang pendidikan menengah di Amerika Serikat dibagi menjadi dua tahap (middle school/ junior high) mulai pada jenjang sixth, seventh, eighth and ninth grade (kelas 6, 7, 8, 9). Jenjang pendidikan pada middle school/ junior high (grade/kelas) di tentukan oleh faktor demografi seperti jumlah usia siswa sekolah menegah. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan populasi siswa sekolah yang stabil. Pada jenjang ini, siswa diberikan kebebasan untuk memilih mata pelajaran yang dikehendaki dan menggunakan system kelas berpindah (moving class).
Senior High(kelas 9,10,11,12) adalah jenjang lanjutan setelah middle school/ junior high, biasanya Jenjang ini dimulai dari ninth grade (freshman), tenth grade(sophomores), eleventh grade(Juniors), twelfth grade(seniors). Perlu diketahui bahwa jenjang middle school/Junior high dan Senior high berbeda-beda di setiap Negara bagian, mengacu pada demografi usia siswa di Negara bagian tersebut.
Pendidikan menengah memiliki struktur kurikulum yang berbeda dengan di Indonesia. Pada jenjang ini, siswa diwajibkan mengabil sejumalah mata pelajaran wajib (mandatory subjects) dan memilihi mata pelajaran pilihan (electives).
Mata pelajaran wajib (mandatory subjects) meiliputi :
- Science (Ilmu pengetahuan alam) meliputi Biologi, Kimia dan Fisika
- Mathematics (Matematika) meliputi aljabar, geometri, pre-calculus dan statistika
- English (pelajaran bahasa inggris) meliputi sastra, humaniora, mengarang dan verbal(praktek)
- Physical education (Olahraga)
Mata pelajaran pilihan (electives) meliputi:
- Atletics meliputi cross country, football, basketball, track and field, swimming, tennis, gymnastics, waterpolo, soccer, softball, wrestling, cheerleading, volleyball, lacrosse, ice hockey, fieldhockey, crew, boxing, skiing/snowboarding, golf, mountain biking, marching band
- Career and Technical Education meliputi agriculture/agriscience, Business/Marketing, Family and Consumer Science, Health occipations
- Computer word processing meliputi programing and design
- Foreign langguages meliputi bahasa Spanyol dan Perancis (umum) Bahasa Cina, Latin, Yunani, Jerman, itali dan Jepang (tidak umum)
- Performing Arts/Visual Arts meliputi, paduan suara, band, orchestra, drama, seni rupa, fotografi, ceramics dan dance
- Publishing meliputi Journalisme/ Koran siswa, buku tahunan dan majala siswa
Skema Pendidikan Dasar, Menengah dan Lanjutan di Amerika Serikat
PENDIDIKAN DI AMERIKA DAN INDONESIA
Pendidikan publik Amerika dioperasikan oleh negara dan pemerintah daerah, yang diatur oleh Amerika Serikat Departemen Pendidikan melalui pembatasan dana federal. Anak-anak diwajibkan di kebanyakan negara untuk menghadiri sekolah dari usia enam atau tujuh (umumnya, taman kanak-kanak atau kelas pertama) sampai mereka berumur delapan belas (umumnya membawa mereka melalui kelas dua belas, akhir SMU); beberapa Negara bagian memungkinkan siswa untuk meninggalkan sekolah pada usia enam belas atau tujuh belas. Sekitar 12% dari anak-anak yang terdaftar di nonsectarian paroki atau sekolah swasta. Hanya sekitar 2% dari anak-anak yang belajar di rumah. Amerika Serikat memiliki banyak lembaga-lembaga swasta dan publik pendidikan tinggi yang kompetitif, serta masyarakat lokal masuk perguruan tinggi dengan kebijakan terbuka. Dari jumlah penduduk Amerika yang berumur diatas dua puluh lima tahun, sekitar 84,6% lulus dari sekolah menengah umum, 52,6% dari mereka masuk ke beberapa perguruan tinggi, dan sekitar 27,2% memperoleh gelar sarjana, dan 9,6% memperoleh gelar sarjana muda. Hampir seluruh rakyat amerika tidak ada yang buta huruf mencapai sekitar 99% dari total keseluruhan. Perserikatan Bangsa-Bangsa memberikan Amerika Serikat sebuah indeks Pendidikan 0,97, yang berada pada peringkat 12 di dunia
Di Indonesia jika berbicara tentang pendidikan tidak akan terlepas dari kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di sekolah. Kegiatan belajar mengajar tidak dapat terlepas dari kurikulum yang sedang berlaku saat itu. Kurikulum merupakan salah satu hal yang cukup vital bagi dunia pendidikan. Sejak Indonesia merdeka, kurikulum yang ada di Indonesia telah mengalami perubahan beberapa kali. Perubahan-perubahan yang terjadi tersebut dimaksudkan untuk membuat sistem pendidikan di Indonesia semakin membaik. Akan tetapi hingga kini perubahan-perubahan itu belum membuahkan hasil yang maksimal hasilnya dibuktikan dengan masih banyaknya warga Indonesia yang mengalami buta huruf.
Amerika sangat mendukung pengetahuan pendidikan. mereka tidak peduli apakah mereka mendapatkan nilai nilai yang rendah itu tidak masalah bagi mereka, dan mereka lebih peduli dengan pengetahuan tentang nilai baik atau buruk. penelitian mereka membuat kontak dengan para guru, dosen atau profesor dosen. guru dapat membangun hubungan dengan siswa di luar kelas, tapi di kelas mereka memiliki pendapat. sedangkan pendidikan di Indonesia sangat berbeda dengan pendidikan di Amerika. jika mereka mendapatkan nilai yang baik dari pengetahuan siswa. Di Indonesia satu adalah kecurangan pada tes, Indonesia hanya menjiplak karya tulis.
Jadi Sebenarnya, tingkat kemampuan murid Asia (Eastern European) dari level 1 sampai 12, jauh diatas kemampuan murid Amerika karena pendidikan di AS saat lebih ini ditujukan untuk menciptakan lulusan yang kemampuan intelektualnya tidak dapat digantikan oleh mesin. Para lulusan di AS diharapkan hanya akan menjadi pencetak ide-ide kreatif, peneliti, dan penganalisa. Mereka menjual segala karyanya sebagai kerja kreatif yang sungguh mahal harganya, Sementara di negara-negara berkembang seperti Indonesia, kita masih melakukan pekerjaan-pekerjaan rutin, baik yang kita lakukan dengan tangan sendiri maupun mesin-mesin produksi, karena pendidikan kita memang mengarahkan demikian. Kita hanya membeli dan memakai dari mereka.
Pemilihan lembaga pendidikan
Jika orang Indonesai dihadapkan pada pertanyan pilihan untuk memilih lembaga pendidikan negeri atau lembaga pendidikan swasta, pasti mereka akan langsung menjawab “jelas pilih yang negeri!”. Di Indonesia, sekolah swasta umumnya tidak terlalu terkenal, kecuali jika memang punya nama besar seperti Bali International School atau sejenisnya yang memiliki prestasi tingkat tinggi. Umumnya orang Indonesia lebih memilih sekolah negeri karena biaya lebih murah. Begitu juga dengan orang Amerika. Sekolah negeri atau public schools di sana memang dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah negara bagian yang bersangkutan. Namun, ketika menyangkut kualitas, umumnya sekolah swasta di Indonesia memiliki sedikit masalah dengan kualitas. Persepsi bahwa sekolah swasta memiliki mutu yang kurang daripada sekolah negeri menyebabkan sekolah negeri kebanjiran peminat. Lain halnya dengan di Amerika. Meskipun biayanya lebih mahal, sekolah swasta dilirik oleh orang mampu karena sekolah swasta atau private schools umumnya memiliki image borjuis dan elite. Soal mutu, mungkin ada perbedaan sedikit, tapi tidak terlalu signifikan.
Mendahulukan praktek daripada teori
Sistem pendidikan di Indonesia terlalu menekankan pada teori. Semuanya berdasarkan teori. Memang di sekolah telah di fasilitasi laboratorium, namun jarang digunakan. Siswa-siswa SD diajarkan materi yang jauh melebihi kemampuan nalarnya. Secara akademis, ini dapat dikategorikan baik. Namun, begitu disuruh melakukan praktek, mereka kelabakan.
Seperti sebuah adegan dari film garapan India yang berjudul “3 Idiots”, dalam film ini diceritakan bahwa hanya Rancho yang mempraktekkan air garam sebagai elektrolit dengan cara menyetrum seniornya yang kencing di depan pintunya dengan sebuah sendok. Semua orang tahu kalau air garam adalah elektrolit, tapi tidak semua orang bisa mempraktekkan kegunaannya.
Berbeda dengan orang Amerika. Orang Amerika cenderung memiliki memiliki rasa ingin tahu dan sikap ilmiah yang cukup tinggi. Sistem pendidikan berbasis pada learning by doing atau “belajar dengan cara melakukan”. Jika anda berkunjung ke sekolah Amerika, biasanya pada pelajaran sains, laoratorium pasti ramai. Selain itu, di beberapa sekolah, terdapat kewajiban kerja amal. Ini melatih soft skill siswa untuk hidup di masyarakat. Sebagai perbandingan, dalam kurikulum Amerika tidak dikenal adanya “Pendidikan Agama” ataupun “Budi Pekerti” atau “Pendidikan Anti-Korupsi”. Tapi apakah itu berarti mereka tidak punya moral dan akhlak? Tidak!. Di Indonesia, kita hanya mempelajari teori Budi Pekerti, untuk implementasinya dalam kehidupan sehari-hari masih sangat jarang ditemukan, meski sebenarnya ada tapi jumlahnya masih sedikit, sedangkan orang Amerika sudah belajar etika dari masyarakat sejak kecil.
Pilihan tak hanya satu
Sistem pendidikan Indonesia memiliki ciri khas, yaitu sistem penjurusan sejak SMA yaitu IPA dan IPS dan saat ini mengalami penambahan beberapa jurusan seperti jurusan bahasa dan teknik. Dan celakanya, pamor IPA jurusan biasanya dikenal lebih baik daripada IPS. Hal ini membuat seolah-olah jalan hidup dibagi menjadi 2, yaitu antara ingin menjadi orang yang berfokus pada jurusan IPA atau IPS. Tetapi tetap saja, sistem pendidikan Indonesia tidak menghargai siswa itu sendiri karena sistem ini. Siswa adalah sebuah wildcard, seorang Novice yang belum memperoleh Job dan mengalokasikan Skill Point. Dengan adanya penjurusan, maka sekolah mematikan hak siswa untuk memilih apa yang disenangi. Di Amerika, siswa diberi kebebasan memilih mata pelajaran apapun yang ia sukai. Selain menyenangkan, sistem itu membuatnya lebih cepat mengenali kemampuannya sendiri.
Bertanya akan lebih baik
Siswa Indonesia cenderung lebih malu bertanya kepada gurunya saat menemui kesulitan di kelas. Karenanya, gurunya harus mempersiapkan bahan ajar lebih banyak. Sebenarnya, sifat ini sudah biasa di Indonesia. Orang Indonesia memiliki harga diri yang cukup tinggi. Dan mereka tidak mau harga diri itu menurun hanya karena bertanya kepada guru saat temannya sudah mengerti semua. Mereka takut diberikan cap “bodoh, lamban, dungu” oleh teman-temannya, meski tidak secara eksplisit. Karena itulah, kebanyakan siswa Indonesia enggan bertanya pada gurunya saat pelajaran. Mereka lebih memilih menemui guru tersebut di luar jam pelajaran sendirian.
Berbeda dengan siswa Indonesia, siswa Amerika jauh lebih aktif dibandingkan siswa Indonesia. Dalam pelajarannya, guru selalu menyempatkan sebuah sesi tanya jawab seusai menjelaskan materi. Dan siswa selalu bertanya apapun yang tidak ia mengerti. Hal ini bagus karena menambah komunikasi antara guru dan siswa, menambah pengetahuan mereka, dan melatih kepercayaan diri dan keaktifan siswa. Perbedaan yang jelas terlihat di sini adalah perbedaan rasa ingin tahu siswa. Siswa Indonesia cenderung merasa cukup apabila sudah menguasai isi suatu bab dengan baik. Di luar itu, tidak akan berguna, karena tidak akan keluar dalam Ujian Nasional. Jadi, ia merasa cukup hanya mengetahui yang ada di buku saja. Siswa Amerika, di pihak lain, sangat penasaran dengan macam-macam. Hal ini mendorongnya bereksplorasi lebih jauh daripada di buku. Untuk memuaskan rasa ingin tahunya, mereka rajin mengunjungi perpustakaan dan lebih sering bertanya pada gurunya. Ini merupakan salah sati factor mengapa Amerika temasuk dari sekian Negara maju.
Bangsa Asia menganggap bahwa orang yang banyak bertanya adalah orang yang bodoh. Sementara orang Amerika menganggap bahwa orang yang banyak bertanya merupakan orang yang memiliki curious yang tinggi. Orang yang memiliki curious yang tinggi adalah orang yang eksploratif, creative, dan inovatif.
Sementara itu, bagaimana pendidikan di Indonesia?
Sistem Pendidikan yang di Anut di Indonesia
Indonesia sekarang menganut sistem pendidikan nasional. Namun, sistem pendidikan nasional masih belum dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Ada beberapa sistem di Indonesia yang telah dilaksanakan, di antaranya:
· Sistem Pendidikan Indonesia yang berorientasi pada nilai.
Sistem pendidikan ini telah diterapkan sejak sekolah dasar. Disini peserta didik diberi pengajaran kejujuran, tenggang rasa, kedisiplinan, dsb. Nilai ini disampaikan melalui pelajaran Pkn, bahkan nilai ini juga disampaikan di tingkat pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
· Indonesia menganut sistem pendidikan terbuka.
Menurut sistem pendidikan ini, peserta didik di tuntut untuk dapat bersaing dengan teman, berfikir kreatif dan inovatif
· Sistem pendidikan beragam.
Di Indonesia terdiri dari beragam suku, bahasa, daerah, budaya, dll. Serta pendidikan Indonesia yang terdiri dari pendidikan formal, non-formal dan informal.
· Sistem pendidikan yang efisien dalam pengelolaan waktu.
Di dalam KBM, waktu di atur sedemikian rupa agar peserta didik tidak merasa terbebani dengan materi pelajaran yang disampaikan karena waktunya terlalu singkat atau sebaliknya.
· Sistem pendidikan yang disesuaikan dengan perubahan zaman.
Dalam sistem ini, bangsa Indonesia harus menyesuaikan kurikulum dengan keadaan saat ini. Oleh karena itu, kurikulum di Indonesia sering mengalami perubahan / pergantian dari waktu ke waktu, hingga sekarang Indonesia menggunakan kurikulum KTSP.
Problem di Bidang Pendidikan
Problem yang dihadapi bangsa Indonesia di bidang pendidikan mencakup tiga pokok problem, yaitu:
a. Pemerataan Pendidikan
Saat ini bangsa Indonesia masih mengalami di bidang pemerataan pendidikan. Hal tersebut dikarenakan pendidikan di Indonesia hanya dapat dirasakan oleh kaum menengah ke atas. Agar pendidikan di Indonesia tidak semakin terpuruk, maka pemerintah harus mengambil kebijakan yang tepat. Misalnya, adanya kebijakan wajib belajar 9 tahun. Kebijakan ini dilaksanakan dari mulai bangku SD hingga SMP. Pemerintah membuat kebijakan dengan meratakan tenaga pendidik di setiap daerah.
b. Biaya pendidikan
Keadaan ekonomi Indonesia yang semakin terpuruk berdampak pula pada pendidikan di Indonesia. Banyak sekali anak yang tidak dapat mengenyam pendidikan karena biaya pendidikan yang mahal. Maka dari itu, agar bangsa Indonesia tidak semakin terbelakang, Pemerintah mulai mengeluarkan dana BOS, yang diberikan kepada peserta didik di SD dan SMP. Hal tersebut dilakukan dengan membebaskan biaya SPP atau membuat kebijakan free-school bagi pendidikan dasar. Dengan dikeluarkan kebijakan tersebut, di harapkan semua pendidikan dapat dirasakan di semua kalangan masyarakat Indonesia.
c. Kualitas Pendidikan
Selain kedua masalah tersebut, permasalahan yang paling mendasar adalah masalah mutu pendidikan. Karena sekarang ini pendidikan kita masih jauh tertinggal jika di bandingkan dengan negara-negara lain. Hal tersebut di buktikan dengan banyaknya tenaga pendidik yang mengajar namun tidak sesuai dengan bidangnya. Selain itu, tingkat kejujuran dan kedisiplinan peserta didik masih rendah. Contohnya: dengan adanya kecurangan-kecurangan yang dilakukan saat mengikuti Ujian Nasional peserta didik cenderung pilih mendapat jawaban secara instan, misalnya dengan membeli jawaban soal UN. Oleh karena itu, mutu pendidikan harus diperbaiki, maka pemerintah membuat kebijakan yang berupa peningkatan mutu pendidik. Yang dilakukan dengan cara mengevaluasi ulang tenaga pendidik agar sesuai dengan syarat untuk menjadi pendidik. Selain itu, pemerintah harus meningkatkan sarana dan prasarana, misalnya memperbaiki fasilitas gedung, memperbanyak buku, dll.
Pendidikan sangat penting pengaruhnya bagi suatu bangsa. Tanpa adanya pendidikan, maka bangsa tersbut akan tertinggal dari bangsa lain. Sepeti halnya juga bangsa Indonesia, pendidikan merupakan salah satu upaya yang dibutuhkan untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa lain khususnya bangsa-banga ASEAN. Maka pendidikan Indonesia harus diperbaiki, baik dari segi sistem pendidikan maupun sarana prasarana.
Indonesia terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Saat ini pemerintah mulai memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia dengan membuat berbagai kebijakan dan merubah sistemnya. Pendidikan Indonesia saat ini menggunakan sistem nasional yang meliputi sistem terbuka, sistem yang berorientasi pada nilai, sistem pendidikan yang beragam, sistem pendidikan yang disesuaikan dengan perubahan zaman dan sistem pendidikan yang efektif dan efisien. Untuk menjalankan sistem tersebut, pemerintah mengeluarkan sistem wajib belajar 9 tahun yang ditujukan untuk peserta didik SD dan SMP, adanya free-school. Perubahan kurikulum dari waktu ke waktu yang disesuaikan dengan keadaan pendidikan sekarang, memperbaiki sarana-prasarana, mengevaluasi kinerja tenaga pendidik dll. Dengan adanya upaya pendidikan di Indonesia dapat lebih baik agar bangsa Indonesia dapat mengimbangi negara lain terutama negara-negara ASEAN.






Thanks for your report,,,
BalasHapusKalau menurut saya, pendidikan di Indonesia itu seharusnya tidak berorientasi pada nilai. Lebih baik lagi kalau Indonesia sedikit mencontoh sistem pendidikan dari Jepang. Misalnya, pelajaran tentang etika dan moral lebih diutamakan ketimbang ilmu pengetahuan di tingkat kelas 1 SD sampai kelas 3 SD. menurut saya itu jauh lebih baik daripada anak-anak terbebani dengan hafalan-hafalan yang bikin pusing dan ujungnya membuat mereka merasa lebih mudah untuk mencontek.
BalasHapusNah, bisa nih kayak gini, jadi fokus keilmuannya setelah punya bekal moral, jdi secara nilai juga bisa kelihatan kemampuan peserta didik
HapusIjin copy ya.makasih
BalasHapusizin copy ya, makasih
BalasHapus